Dari Kabupaten Bengkayang: " Pak Jokowi Minta Tas "

khanza
05/04/2017 - 13:05
Pilarbangsa.id, Pembangunan di perbatasan negara terus digalakkan Pemerintah Indonesia. Pos Lintas Batas Negara (PLBN) pun sudah dibangun megah dan mewah.
Di Kalimantan Barat, tiga PLBN tidak lagi seperti dapur, melainkan ruang tamu yang megah. Sayangnya hal serupa belum menyentuh dunia pendidikan. Salah satunya fasilitas pendidikan di Kabupaten Bengkayang yang berbatas langsung dengan Serikin, Sarawak, Malaysia yang masih perlu dibenahi.
 
Pelajar-pelajar di tapal batas tersebut belum menikmati kelayakan dalam mengenyam bangku pendidikan. Boleh dibilang, syukur-syukur masih ada yang mau sekolah dan tak tergiur mau hijrah ke negara tetangga.
 
Selain infrastuktur sekolah yang tak memadai, fasilitas pendukung juga tak bisa diandalkan. Contohnya, Sekolah Dasar Negeri (SDN) 04 Sungkung, Kecamatan Siding, Bengkayang.
 
Kebanyakan pelajar di sekolah ini harus menempuh jalan berbatuan, tanjakan, berlumpur dan berdebu selama 2-3 jam dari rumah mereka menuju sekolahnya. Tanpa alas kaki alias ceker ayam. Tanpa tas, hanya menggunakan kantong kresek (plastik). Serta mengenakan seragam yang lusuh, tak seperti pelajar selayaknya. 
 
Setibanya di sekolah, mereka harus menghadapi bangunan sekolah yang sudah tak layak. Penuh dengan lubang dan rapuh pula.
 
Mirisnya dunia pendidikan ini membuat seorang guru dari Sarjana Mendidik di Daerah Terdepan Terluar dan Tertinggal (SM-3T) Kemendikbud, Anggit Purwoto yang ditugaskan di tapal batas, mencoba memberikan informasi tentang kondisi sebenarnya pendidikan di perbatasan, melalui video singkat yang dibuatnya.
 
Video yang diunggah di facebook dan instagram miliknya itu, terlihat foto empat murid SDN 04 Sungkung menyerukan mohon bantuan kepada pemerintah. Dengan suara lirihnya, Revan, Hery Aprianto, Jhembo dan Eligen Tomas bergantian bilang 'Pak Jokowi Minta Tas'. 
 
“Apa yang dilakukan ini sebenarnya adalah keinginan hati kecil mereka untuk memiliki tas dan sepatu serta bantuan pendidikan lainnya. Sama seperti siswa di tempat lain,” kata Anggit kepada Rakyat Kalbar (Jawa Pos Group), Selasa (4/4) pagi.
 
Video yang diunggahnya menjadi viral. Ini yang diharapkan Anggit, agar masyarakat yang mampu, terutama pemerintah, mengetahui kondisi pendidikan di tapal batas. Sehingga dapat mengulurkan bantuan. 
 
Dalam video tersebut juga dilengkapi kalimat, "Tidakkah kalian merasa kasihan. Masih adakah hati nurani kalian. Mereka hanya minta tas, untuk membawa buku-buku yang mungkin bertuliskan mimpi-mimpi kecil mereka, agar mimpi yang mereka tuliskan tidak hancur terkena lumpur atau koyak kena hujan.
 
Tidakkah kalian iba, melihat baju kotor mereka. Berjam-jam jalan melewati jalan lumpur. Tidakkah kalian iba ketika perjuangan mereka, mimpi mereka terhapus sia-sia oleh kejamnya negeri perbatasan. Dengarlah suara lirih mereka Pak,” tulisnya dalam video tersebut.
 
“Dengan video itu, saya berharap Presiden Joko Widodo (Jokowi) tahu kondisi anak-anak pelajar di perbatasan. Setidaknya bisa lebih memperhatikan pendidikan di pelosok Indonesia, seperti yang saya hadapi saat ini,” sambung Anggit saat berbincang dengan Rakyat Kalbar.
 
Anggit ditugaskan mengabdi selama setahun di sana. Ada 135 murid SDN 04 Sungkung menjadi anak didiknya. Ditambah lagi mendidik pelajar SMAN 1 Siding, yang juga masih ada tanpa tas dan hanya pakai sandal. Dia dan empat guru SM-3T lainnya sudah melewati masa tujuh bulan mengajar, tersebar di setiap sekolah di Sungkung.
 
Pemuda asal Purbalingga, Jawa Tengah ini mengaku sedih melihat kondisi anak Indonesia seperti itu. Pertama kali menginjakkan kakinya di ujung Bumi Sebalo ini, ia heran di era modern masih saja ada pelajar SD dan SMA yang ke sekolah hanya pakai sandal, bahkan telanjang kaki.
 
“Apa yang bisa kami perbuat, kami katakan kepada meraka, kami bukan pejabat yang bisa menyampaikan keadaan ini kepada Presiden. Makanya kami mulai mencari bantuan untuk adik-adik, dimulai dengan video itu. Dan saat ini mulai ada yang memberikan bantuan,” katanya.
 
Menurut pemuda kelahiran 30 Agustus 1994 ini, wajar saja kondisi tersebut terjadi. Lantaran Sungkung dinilainya sebuah desa yang sangat terisolir, jauh dari kata kemajuan. Butuh perjalanan dua hari dari pusat Kabupaten Bengkayang. Akses jalan aspal terdekat berada di Kecamatan Entikong, Kabupaten Sanggau.
 
Untuk menuju jalan aspal terdekat, membutuhkan waktu delapan jam menggunakan sampan menyusuri sungai Sekayam, empat jam melalui jalan darat jika kondisinya kering. Namun, jika basah atau becek, sulit untuk diprediksi. Minimal butuh biaya Rp 600 ribu dari pusat Bengkayang untuk sampai di Sungkung.
 
“Di Sungkung tiada listrik. Untuk mendapat sinyal saja, harus naik bukit yang jarak tempuhnya 45 menit jalan kaki dari Asrama kami,” ucap Anggit.
 
Belum lagi ditambah dengan ganasnya harga berbagai produk lokal di sana. Sementara produk-produk buatan Malaysia yang dominan lebih murah sangat mendominasi wilayah ini. Di sana juga berlaku dua mata uang, yaitu ringgit dan rupiah. 
 
“Saya bangga dan salut dengan perjuangan anak-anak tapal batas ini. Agar tetap bisa menyambung sebuah coretan tinta di bukunya, mereka ada yang sekolah sambil jual kue. Mereka tidak menyerah dengan keadaan yang ada,” ucapnya.
 
Tak sedikit pula, lanjut Anggit, anak didiknya baik SD maupun SMA yang bekerja di Malaysia ketika liburan. Semua demi membayar uang bulanan sekolah. Mereka begitu tahu, bahwa hidup di negara tetangga jauh lebih sejahtera. “Tapi mereka masih memiliki rasa kebangsaan yang tinggi, sehingga berpikir dua kali untuk menjadi warga negara di negara seberang,” ungkapnya.
 
Bagaimanapun, kata Anggit, mereka lebih memilih 'hujan batu' di negeri sendiri daripada 'hujan emas' di negeri orang. Lantas bagaimana peran orang tua atau keluarga dalam pendidikan anak? 
 
Sepanjang pengetahuan Anggit, setiap orang tua muridnya sangat mendukung. “Mayoritas orang tua mereka petani. Mereka mendukung pendidikan anak. Hanya kurang memperhatikan keperluan sekolah saja. Ya itu karena terkendala biaya. Penghasilan ada, cuma langsung habis dengan kebutuhan pokok yang terlalu mahal,” ulasnya.
 
Memang, perhatian pemerintah pun sejauh ini ada. Seperti penyaluran dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) sampai kepada murid-muridnya. Tapi, hasil dari pemanfaatannya tak banyak, kembali lagi soal harga segala macam barang di sana yang sangat mahal.
 
“Dana BOS tidak mencukupi. Karena harga barang di sini melambung tinggi. Contoh semen Rp 450 ribu per sak, elpiji 3 kilogram saja Rp 80 ribu. Satu buku tipis Rp 7 ribu, pulpen Rp 5 ribu,” jelas Anggit.
 
Anggit yang berada di tengah pusat Kota Bengkayang turun gunung untuk menggalang dana. Dia juga mengurus bantuan dari masyarakat yang tergugah hatinya menonton video, “Pak Jokowi Minta Tas”.
 
Ia mengatakan, hal terburuk bukan ketika mereka tidak punya baju bagus untuk berangkat ke sekolah. Bukan ketika mereka tidak punya sepatu, bukan ketika mereka tidak punya tas, tetapi hal terburuk adalah ketika mereka tidak mempunyai mimpi. Perjalanannya di Sungkung ini, kata Anggit, akan dijadikan pelajaran hidup yang sangat berarti. 
 
“Sementara kita berusaha mengajari anak-anak kita pelajaran tentang hidup, mereka mengajari kita apa kehidupan itu,” tutup Alumni Universitas Muhammadiyah Purwokerto ini.
 
 
 
 
 
Sumber: Jawa Pos

Views today

1