Gerakan 212: Sudahlah..Alumni dan Presidium Tak Ada lagi Urgensinya

Hanif
17/01/2018 - 14:29

Memang diakui, banyak pihak yang mengapresiasi peranan gerakan 212 dalam pilkada DKI, meskipun gegap gempita, namun semua dapat berjalan dengan lancar dan aman. Gerakan 212 telah sukses memobilisir demo yang paling besar, paling tertib dan paling bersih, ini semua karena lahir dari niat yang sama yaitu tuntutan agar penista Al-Qur'an dihukum dan jangan sampai menjadi gubernur DKI.

Itulah hakikat demo 212, maka setelah pilkada DKI eksistensi apa yang disebut gerakan 212 telah berakhir, jika ada yang mencoba memunculkan dengan istilah presidium dan alumni, maka itu tidak ada lagi urgensi dan bahkan bagian dari ketidak pahaman terhadap dinamika 212 yang digerakkan oleh sentimen agama yang sangat dahsyat sekali.

Mengapa harus disudahi? Sebab tidak ada lagi isu yang bisa menyatukan, terkesan dipaksakan dan itu pasti akan berakhir dengan kegagalan, sebab ia hanya akan menjadi kerumunan dengan agenda sendiri sendiri, ada HTI, ada FPI, FUI dan juga Partai. Sesungguhnya mereka berbeda dari kepentingan, ideologi, visi dan agenda prioritas.

Perlu dipahami bahwa Gerakan 212 berbeda jauh dengan gerakan alumni 212 atau Presidium 212, karena itu jangan berharap akan dapat berjalan solid, dan produktif, justru akan melahirkan kegaduhan bahkan berpotensi konflik sesama sendiri. Oleh karena itu, hentikan mengkapitalisasi momen 212, tak perlu diteruskan, karena sudah selesai tugas utamanya yang mulia, kehadiran alumni dan presidium justru akan mengotori prasasti dan kesakralan 212 itu sendiri.

Sekali lagi sudahlah karena akan sia dan menguras energi yang tak berarti.

 

Jakarta

17 Januari 2018

Mukhlas Syarkun