Haji Mabrur; Yang ber-Haji dan Belum ber-Haji

Hanif
31/08/2017 - 14:26

“Barang siapa meninggalkan haji, tiadalah ia menyempurnakan janji.” Gurindam dua belas Raja Ali Haji. Gubahan syair Raja Ali Haji mengajak agar menunaikan ibadah haji sebagai kewajiban syari’i (formal), namun disisi lain mengigatkan kita untuk menyadari nilai-nilai penting rohani (subtansial) dalam dimensi ibadah haji yang tidak sekedar ibadah fisik semata-mata, tetapi di dalamnya kental dengan dimensi rohani, sebagai upaya pemenuhan janji kita kepada Allah yang kita ikrarkan ketika dalam rahim.

Ibadah haji adalah penegasan total makna “meng-esakan” Allah. Para jemaah haji disunahkan untuk mengucapkan kalimat talbiyah (Labbaikallahumma Labbaik) dan tahlil (Laa Ilaha Illallah) sebagai deklarasi sikap dan penyerahan diri kepada Allah Yang Maha Esa. Dalam ibadah haji keyakinan akan ke-Esaan Allah diungkapkan dalam semua aktifitas yang mungkin dilakukan manusia, mulai dari gerakan hati, ucapan lisan, perilaku tubuh dan pengorbanan harta. Secara Syari’i ibadah haji harus memenuhi syarat dan rukunnya dan selanjutnya jamaah haji harus menyebut nama-nama dan sifat-sifat-Nya, yang nantinya akan menyalakan cahaya keindahan dan kemuliaan-Nya. Setelah itu para jamaah haji batiniyah membungkus dirinya sendiri dalam cahaya ruh suci, mengubah bentuk fisiknya ke dalam esensi batin yaitu pemenuhan janji seorang hamba kepada Sang Khalik.

Ibadah haji merangkai semua jenis ibadah tesebut dalam rangkaian yang sempurna. Dimulai dari deklarasi ihram yang wajib diucapkan secara lisan, seorang haji harus menahan diri dari berbagai larangan tertentu selama masih berihram. Kemudian dilanjutkan dengan thawaf dan sa’i yang melibatkan seluruh tubuh. Dilengkapi dengan wukuf di Arafah dan lempar jumrah, prosesi diakhiri dengan menyembelih hewan kurban yang merupakan ibadah harta. Bahkan ibadah haji adalah ibadah yang paling menyita energi dan menelan biaya. Seluruh kemampuan yang diperlukan dalam ibadah-ibadah sebelumnya tercurah pada ibadah haji, sehingga pantas dikatakan bahwa ibadah haji adalah puncak ketaatan.

Kesakralan Ka’bah, Maqam Ibrahim, bukit Shafa dan Marwa juga Jumrah di Mina bukanlah pada materi benda-benda tersebut, tetapi pada makna ketaatan dan nilai tauhid yang terkait dengan syiar-syiar tersebut. Karena itu, para fuqaha sepakat bahwa seandainya Ka’bah hancur tak tersisa, umat Islam tetap disyariatkan untuk thowaf dan sholat ke arah Ka’bah, karena yang dimaksud bukan materi Ka’bah tetapi pada lokasi dan kondisi yang Allah tentukan sedemikian rupa.

Oleh karena itu, kita berdoa semoga saudara kita yang sedang menjalankan ibadah haji tidak terjebak pada yang formalitas ibadah dalam dimensi fiqiah, namun juga dapat memenuhi dimensi spiritualnya, agar dapat melaksanakan rangkaian ibadah haji secara komprehensif (formal dan subtansial) sehingga menjadi haji yang mabrur. Namun, bagi yang belum berkesempatan menunaikan ibadah haji, agar tetap berupaya menggapai sisi subtansi dari Ibadah Haji agar kita dapat mabrur meskipun belum pergi ke Makkah.

Dalam hal ini Ibnu Rajab al-Hanbali memotivasi, “Barangsiapa yang tidak dapat wukuf di arafah, maka hendaklah meneguhkan diri dalam batas-batasan (syara’ dan ketentuan Allah), agar lebih dekat untuk mengenal-Nya. Barangsiapa yang tidak dapat mabit di muzdalifah, maka hendaklah bermalam-malam dengan ketaatan untuk mendekatkan diri kepada Allah, dan bermesraan dengan-Nya. Barangsiapa yang tidak mampu menyembelih hewan kurban, maka hedaklah menyembelih hawa nafsunya agar sampai harapan denganNya. Barangsiapa yang tidak mampu datang ke rumah Allah (ka’bah) karena juah, maka hendaklah menguatkan keinginan pada pemilik ka’bah (Allah), karena sesungghunya Dia (Allah) sangat dekat.

 

 

Editorial

Muklas Syarkun

Views today

1