Zakat untuk Membangun Peradaban yang Agung

asmara
14/07/2015 - 07:20
Di setiap zaman, manusia bergerak dalam membentuk peradabannya masing-masing. Suatu peradaban dapat dikatakan maju dilihat melalui aspek material dan immaterial yang dibangun. Banyak peradaban yang maju dari segi material sejak zaman kaum ‘Aad, kaum Tsamud, bangsa Fir’aun yang ditunjukkan dengan adanya bangunan-bangunan yang megah, kokoh, dan indah, sebagaimana pada zaman ini manusia mampu membangun gedung-gedung pencakar langit. Namun, tak semua zaman mampu membangun dengan kokoh segi immaterial melalui pemikiran-pemikiran yang cerdas dan bermoral.
 
Peradaban tinggi mulai dibangun umat Islam di masa Nabi Muhammad SAW. Pada masa itu, Nabi Muhammad SAW menegakkan syariat Islam dalam mengatur aspek-aspek kehidupan. Dengan mengacu pada Al-qur’an dan berteladan Rasulullah SAW terbukti keadaan umat Islam mampu bangkit dari keterpurukkan serta menggapai zaman kejayaannya. Dimulai pada zaman Rasulullah SAW kemudian dilanjutkan oleh kekhalifahan Islam, ilmu pengetahuan mulai berkembang pesat, nilai-nilai moral ditegakkan, hukum diselenggarakan dengan adil, pembangunan besar-besaran dan pengaruh Islam pun semakin meluas.
 
Keadilan Sosial 
Salah satu instrumen penegak keadilan dan pengatur kesejahteraan umat pada saat itu adalah zakat. Rasulullah SAW, dalam sebuah hadits sahih yang diriwayatkan oleh Imam Al Ashbahani, telah bersabda, "Sesungguhnya Allah SWT telah mewajibkan atas hartawan Muslim suatu kewajiban zakat yang dapat menanggulangi kemiskinan. Tidaklah mungkin terjadi seorang fakir menderita kelaparan atau kekurangan pakaian, kecuali oleh sebab kebakhilan yang ada pada hartawan Muslim. Ingatlah, Allah SWT akan melakukan perhitungan yang teliti dan meminta pertanggungjawaban mereka dan selanjutnya akan menyiksa mereka dengan siksaan yang pedih". Berdasarkan hadis tersebut yang kita yakini kebenarannya secara mutlak, maka zakat merupakan solusi untuk menjawab kemiskinan. Satu hal yang sangat menarik adalah Allah SWT membandingkan antara zakat dan riba. Zakat, meskipun secara nominal mengurangi harta, tetapi pada hakikatnya menambah harta di sisi Allah SWT. Sedangkan riba, meskipun secara nominal menambah harta, namun pada hakikatnya justru mengurangi harta di sisi Allah SWT (QS Ar Ruum:39).
 
Dengan konsep memberikan sebagian rezeki yang didapat untuk diberikan kepada golongan yang membutuhkan, zakat menjadi instrumen yang ampuh dalam bidang ekonomi dan sosial. Zakat ibarat sebuah jembatan penghubung yang mempererat persaudaraan antara kaum kaya dan miskin untuk berjalan bersama dalam pembangunan. Dengan adanya hubungan yang erat dari keduanya, suatu peradaban dapat benar-benar dikatakan maju karena kemajuan tersebut dirasakan keduanya tanpa ada yang merasa terzhalimi.
 
Pencerahan Spiritual 
Untuk memahami pentingnya membayar zakat, bagaimana itu merupakan ujian karakter dan pencerahan spiritual, dan mengapa hal itu telah membuat salah satu dari dasar-dasar Islam, meskipun itu adalah transaksi keuangan dan bukan tindakan fisik ibadah. Tiga poin patut dipertimbangkan di sini:
 
Pertama : Pengujian tingkat cinta kepada Allah
Untuk mengucapkan dua kalimat dari Pengakuan Iman (Shahada) ("Tidak ada Tuhan selain Allah-Muhammad adalah Rasul Allah") adalah wajib sebagai penegasan dari Kesatuan Ilahi dan kesaksian hidup melajang dari Satu untuk Siapa ibadah semua disebabkan.
 
Pemenuhan lengkap dari kewajiban ini mensyaratkan bahwa dia yang menegaskan Kesatuan Ilahi harus mengarahkan cintanya ke none tetapi Satu, unik.
Ada sedikit nilai dalam derajat affirmation.The hanya verbal cinta diuji hanya dengan memisahkan kekasih dari hal-hal lain yang dicintainya.
 
Benda-benda duniawi adalah objek cinta di mata semua orang, menjadi sarana yang mereka menikmati manfaat dari dunia ini. Karena itu, kita menjadi melekat pada kehidupan dan menghindar dari kematian, walaupun kematian membawa kita untuk memenuhi Kekasih (Allah).
 
Kebenaran klaim kita untuk mengasihi Allah karena itu diuji, dan kita diminta untuk menyerahkan kekayaan yang merupakan apel mata kita.
 
Itulah sebabnya Allah berfirman: "Allah telah membeli dari orang-orang beriman dan barang-barang mereka, Paradise yang mereka untuk harga" (Quran: 9: 111).
Allah juga mengatakan bahwa kesalehan sejati berarti memberikan harta kekayaan seseorang, meskipun cinta untuk itu, untuk menutup kerabat, anak yatim, para musafir dan pengemis, dan untuk emansipasi budak.
 
Kedua : Penghapusan kikir
Keputusan Ilahi dengan apa yang Allah Tawaran hamba-Nya untuk menghabiskan kekayaan mereka, juga signifikan dalam membersihkan kebiasaan kikir, yang merupakan dosa yang mematikan.
 
"Dan barangsiapa yang diselamatkan dari ketamakan sendiri, seperti mereka yang akan menjadi sukses" (Quran 59: 9).
Kebiasaan kikir hanya dihilangkan dengan membuat diri terbiasa menghabiskan uang, untuk mematahkan lampiran seseorang harus memaksa dirinya pergi sampai kebiasaan baru ditemukan.
 
Kemurnian ia memperoleh yang sebanding dengan pengeluaran nya, untuk menyenangkan-Nya dalam memberikan diri dan sukacita dalam pengeluaran demi Allah.
Ketiga: Ungkapan syukur
 
Faktor ketiga adalah rasa syukur atas manfaat yang diterima, sebab hamba ini berhutang budi kepada Allah atas karunia pribadi dan materi
 
Transformasi Ekonomi
Umar Bin Abdul Aziz memiliki kepedulian luar biasa terhadap zakat. Umar meminta dan memerintahkan dengan tegas agar pengumpulan zakat dari orang Islam yang kaya tidak hanya dipandang sebagai aturan ilahi. Tetapi hal ini hendaknya dipandang sebagai aturan hak orang miskin atas orang kaya. Umar berkata: “Allah SWT menentukan zakat dan menetapkan penerimanya". Jadi zakat, harus dikumpulkan dan dibagikan sebagaimana ditegaskan dalam Alquran dan Hadis.
 
Ibnu Sa`ad dalam karyanya, ath-Thabaqat al-Kubra, menuturkan kesaksian Muhajir bin Yazid, pegawai zakat di masa Khalifah Umar bin Abdul Aziz (wafat 101 H), seperti berikut: “Kami diangkat sebagai pegawai zakat oleh Umar bin Abdul Aziz. Kami pun membagikan zakat kepada orang-orang yang berhak menerimanya. Tapi, pada tahun berikutnya kami justru memungut zakat dari orang-orang itu”. Ini menunjukkan keberhasilan zakat, di mana zakat dapat merubah orang dari orang miskin menjadi orang kaya. Penyaluran zakat dapat merubah kemiskinan menjadi kekayaan, bukan justru mempertahankan kemiskinan itu sendiri.
 
Perubahan yang sangat drastis dan singkat itu tampaknya menjadi fenomena umum di masa Umar bin Abdul Aziz. Zakat dan perangkat ekonomi lainnya berhasil meningkatkan taraf hidup masyarakat miskin sehingga tidak ada lagi orang yang mau menerimanya. Akhirnya, zakat hanya dapat diberikan kepada hamba sahaya untuk mendapatkan kemerdekaannya, sebab hanya kelompok inilah yang berada di bawah garis kemiskinan.
 
Keberhasilan Umar bin Abdul Aziz adalah sebuah fakta sejarah sekaligus model yang dapat diwujudkan kembali di masa kini. Zakat dapat berfungsi secara efektif untuk mengatasi masalah kemiskinan, selama mekanisme pemungutan dan distribusinya dilakukan dengan benar. Serta didukung perangkat-perangkat lain yang menunjangnya. Terkait dalam hal ini adalah komitmen, kemauan atau political will dari pimpinan pemerintahan. Jika pimpinannya mempunyai komitmen dan kemauan dalam mengelola zakat, maka insya Allah peranan zakat dalam mengentaskan kemiskinan dan kebodohan pasti dapat diwujudkan.
 
Kegemilangan zakat adalah sejarah yang pernah ada. Umar bin Abdul Aziz merupakan khalifah umat Islam yang menerapkan zakat sebagai konsep utama dalam mengentaskan kemiskinan dan mensejahterakan rakyat.  Ibnu Sa`ad dalam karyanya, ath-Thabaqat al-Kubra, menuturkan kesaksian Muhajir bin Yazid, pegawai zakat di masa Khalifah Umar bin Abdul Aziz, seperti berikut; Kami diangkat sebagai pegawai zakat oleh Umar bin Abdul Aziz. Kami pun membagikan zakat kepada orang-orang yang berhak menerimanya. Tapi, pada tahun berikutnya kami justru memungut zakat dari orang-orang itu. Ini menunjukkan keberhasilan zakat, di mana zakat dapat mengubah orang dari orang miskin menjadi orang kaya. Penyaluran zakat dapat mengubah kemiskinan menjadi kekayaan, bukan justru mempertahankan kemiskinan itu sendiri.
 
Apa yang telah dilakukan khalifah Umar bin Abdul Aziz menunjukkan bahwa ia telah memaajukkan umat melalui penerapan hukum zakat dari apa yang pernah diterapkan oleh Nabi Muhammad SAW, Khulafaurrasyidin, dan khalifah sesudahnya. Pada masa kepemimpinan Umar bin Abdul Aziz, para mustahiq (orang yang wajib membayar zakat) telah berubah menjadi muzakki sehingga sulitnya mencari mustahiq sehingga puncak peradaban zakat dapat dicapai pada masanya. Umar meminta dan memerintahkan dengan tegas agar pengumpulan zakat dari orang Islam yang kaya tidak hanya dipandang sebagai kewajiban seorang muslim tetapi juga sebagai pemenuhan hak orang miskin atas orang kaya. 
 
Pada zaman ini, banyak yang memandang zakat hanya sebagai pelaksanaan perintah Allah SWT tanpa memahami berbagai efek positif yang ditimbulkannya. Menunaikan zakat dianggap sulit karena terbentur keinginan manusia untuk bertindak konsumtif dalam membelanjakan hartanya untuk keperluan pribadi. Hal inilah yang membuat kemandekan dalam memaksimalkan potensi zakat, baik dalam pemikiran maupun praktiknya. Umat muslim harus segera sadarbahwa Islam telah memiliki instrumen yang sangat ampuh untuk bangkit dan membangun peradaban sebagaimana yang telah ditunjukkan dalam perintah Allah. Efek dari pemberdayaan zakat terbukti sangat besar pengaruhnya terhadap pembangunan. Oleh karena itu, umat Islam harus memaksimalkan penghimpunan zakat dari potensi yang sangat besar yang dimiliki umat muslim Indonesia untuk memajukkan peradaban dengan berpijak pada sumber peradaban kita sendiri, yaitu Al-Qur’an dan Al-Sunnah.
 
Dengan demikian jelas  zakat merupakan hal penting dalam upaya membangun peradaban yang yang agung, karena didalamnya tersimpan penghargaan pada kemanusiaa, didalam zakat termuat pengakkan keadilan sosial, dalam ibadah zakat juga menjadi isntrumen penting dalam trasformasi ekonomi, dan sebuah peradaban yang agun akan wujud jika didalamnya memberi ruang tercerahnya sipritual manusia itu untuk lebih dekat dan mengabdi pada Tuhannya dan nilai-nilai kemanusiaan, ayo kita zakat untuk membangun peradban manusia yang agong.(Mukhlas Syarkun)