CILEGON, PILARBANGSA.ID — Ketua Umum DPP Gabungan Pengusaha Nasional Angkutan Sungai, Danau, dan Penyeberangan (Gapasdap), Khoiri Soetomo, mengaku sangat prihatin atas insiden kebakaran KMP Batu Mandi di perairan Merak. Ia mencatat, sejak Agustus hingga Oktober 2026, sudah empat kali terjadi insiden besar yang melibatkan kapal penyeberangan.
Menurut Khoiri, keselamatan pelayaran bukan hanya tanggung jawab operator semata, melainkan tanggung jawab bersama seluruh pemangku kepentingan. Ia menyebut ada belasan mata rantai yang membentuk ekosistem pelayaran, mulai dari operator, pengelola pelabuhan, regulator pemerintah, hingga pengguna jasa.
“Jika satu saja mata rantai itu lemah, maka kecelakaan bisa terjadi. Semua harus saling mendukung untuk menciptakan pelayaran yang aman,” tegas Khoiri dalam keterangannya di Sosoro Mall Pelabuhan ASDP Merak, Rabu (21/10/2026).
Terkait penyebab pasti kebakaran KMP Batu Mandi, Khoiri mengaku masih menunggu hasil investigasi resmi dari KNKT. Ia berharap KNKT segera melakukan penyelidikan secara objektif agar rekomendasi terbaik bisa diberikan untuk perbaikan ke depan.
Di sisi lain, Khoiri memberikan apresiasi tinggi atas proses penyelamatan penumpang yang dinilai sangat cepat dan solid. Ia memuji peran Basarnas, nelayan lokal, pemilik perahu wisata, hingga pemilik perahu sandar yang bahu-membahu melakukan evakuasi.
Apresiasi khusus juga ia berikan kepada Nakhoda dan manajemen KMP Royce 1 dari PT DLB. Kapal yang saat itu dalam posisi tidak beroperasi, mampu dengan cepat menghidupkan mesin dan mengerahkan seluruh sumber daya manusianya untuk membantu penyelamatan. Sekitar 50 persen penumpang berhasil dievakuasi oleh kapal tersebut.
Khoiri juga memuji kru KMP Batu Mandi dari PT ASDP Indonesia Ferry yang dinilai menjalankan prosedur darurat dengan sangat baik. Mulai dari menyalakan alarm, pembagian tugas sesuai daftar kumpul, hingga penggunaan alat keselamatan seperti rakit penolong dan papan luncur evakuasi yang berfungsi optimal. Rekaman video penumpang menjadi bukti nyata bahwa proses evakuasi berjalan tertib.
Untuk mencegah kejadian berulang, Khoiri meminta Menteri Perhubungan melakukan pembenahan menyeluruh, terutama pada aspek keselamatan. Ia menekankan bahwa budaya keselamatan hanya bisa terbangun jika iklim usaha yang sehat tercipta terlebih dahulu.
Keseimbangan yang dimaksud mencakup antara permintaan dan ketersediaan layanan. Ia menyoroti banyaknya kapal yang menganggur dan hanya beroperasi 9 hingga 11 hari dalam sebulan — kondisi yang berisiko mengganggu kesehatan finansial perusahaan dan pada akhirnya dapat berdampak pada standar keselamatan. Selain itu, keseimbangan antara jumlah kapal dan ketersediaan dermaga juga perlu diperhatikan.
Terakhir, Khoiri menegaskan fungsi pelabuhan harus dikembalikan sebagai gerbang keselamatan. Pelabuhan wajib memastikan tidak ada muatan berbahaya, kendaraan kelebihan muatan atau melebihi dimensi, serta barang mudah terbakar yang masuk ke kapal. Ia juga mengingatkan terkait pengangkutan bahan bakar minyak, baik yang legal maupun yang tidak, yang seharusnya menggunakan kapal khusus sesuai ketentuan peraturan. Gapasdap juga telah menghimbau seluruh anggotanya untuk meningkatkan standar keselamatan di lingkungan masing-masing. (Sari)
